Ahad, 31 Januari 2010

Paradoks Ruang,Masa dan Kesibukan





Dah tentu kita semua selalu mendengar keluhan orang-orang yang bekerja di kota-kota seperti di Kota Lumpur ni (seperti juga gua sendiri).Berangkat subuh,pulang malam gelita.Belum lagi masuk labon kesesakan dan kelecehan di jalan-jalan yang membuat kita lambat bergerak sampai ke tempat yang dituju.

Pekerjaan terlalu menjerat hidup kita.Sering kali terjadi pekerjaan telah terlalu menceroboh waktu kita.Yang paling hebat tapi menyedihkan,pekerjaan telah membuat jiwa kita ditawan.

Sekarang dah jarang didengari istilah 'mencari nafkah' atau 'mencari makan'.Dalam kepala otak,fikir nak jadi kaya dan benda-benda materialistik.Cuba bayangkan berapa banyak orang yang bekerja bukan kerana menyimpan harapan atau tiada langsung berharap untuk menjadi kaya.

Banting tulang mengumpul fulus untuk merialisasikan hajat memiliki rumah idaman.Setelah dah dapat rumah tu,direnovasi pula.Diperbesarkan.Kemudian perabot nak ditukar dengan yang baru dan lebih gempak.Proses ini berterusan.Sentiasa sibuk membuat segala macam itu dan ini.Buat semua itu untuk dinikmati tapi terlalu sibuk sehingga gagal untuk menikmati hasil tenaga dan fikrah kita.

Ada juga berlaku ketika berada di tempat kerja, rindu menikmati suasana bersantai di rumah.Tapi tatkala di dalam rumah,tak rasa tenteram.Mahu cepat-cepat keluar dari rumah.Ketika sibuk,lahir perasaan nak merasa waktu bersantai tapi bila ada masa itu,kita ingin terus sibuk dan sibuk lagi.

Kita ingin memiliki ruang waktu.Kita mencari-cari kelapangan masa.Kita membahagi-bahagi,menghitung-hitung seluruh waktu hari-hari kita kemudian menyusun semula dan memadatkan lagi agar wujud waktu untuk dinikmati.

Tapi apabila kita berjaya memperoleh masa terluang yang kita dambakan itu, apa yang terjadi? Saat itu juga kita terus sibuk mencari kesibukan.Nak mengisi waktu dengan kesibukan lagi.Paradoks,bukan?

It is not enough to be busy. So are the ants. The question is: What are we busy about? Menjadi sibuk saja tak cukup,semut pun sibuk.Persoalannya: apa yang kita sibukkan itu? Inilah yang diperkatakan oleh Henry David Thoreau.